Wisata Mancanegara

5 Masjid di Thailand yang Bisa Kamu Jadikan Destinasi Wisata Halal

Summary

5 Masjid di Thailand yang Bisa Kamu Jadikan Destinasi Wisata Halal Masjid di Thailand –  Negeri Gajah Putih atau Thailand disebut sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Maka dari itu, wajar jika berwisata ke Thailand tidak akan pernah mengunjungi […]

5 Masjid di Thailand yang Bisa Kamu Jadikan Destinasi Wisata Halal
okezone muslim

5 Masjid di Thailand yang Bisa Kamu Jadikan Destinasi Wisata Halal

5 Masjid di Thailand yang Bisa Kamu Jadikan Destinasi Wisata Halal
okezone muslim

Masjid di Thailand –  Negeri Gajah Putih atau Thailand disebut sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Maka dari itu, wajar jika berwisata ke Thailand tidak akan pernah mengunjungi kuil-kuil di pusat kota Bangkok, seperti Wat Arun, Wat Pho atau Wat Phra Kaew.

Selain menikmati keindahan pura, berwisata ke Thailand biasanya tidak jauh dari tempat belanja. Pasalnya, Thailand memiliki Pasar Pratunam dan Pasar Chatuchak yang berisi berbagai jenis produk berkualitas tinggi yang bisa Anda beli dengan harga murah. Dan makanan jalanan yang unik, tentu saja, juga counter-mainstream.

Namun, selain daftar berbagai aktivitas yang disebutkan tadi, tahukah Anda kalau Thailand punya destinasi wisata halal yang cocok bagi wisatawan yang ingin “menelusuri kembali” di Thailand sambil menikmati suasana islami? Ya, di Thailand, kamu bisa menemukan lima masjid populer yang bisa dikunjungi untuk wisata religi.

Dari Masjid Halong yang digunakan sebagai cagar budaya, hingga Masjid Jawa dengan nuansa Demak yang unik, Anda bisa menemukan dan menjelajah suasana Indonesia di Bangkok.

Apa yang ingin kamu ketahui? Datang dan lihat!

1. Ton Son Mosque

masjid-ton-son-bangkok-thailand-_161107161946-191
Replubika

phuketairlines – Masjid yang terletak di distrik Yai di Bangkok, Thailand ini merupakan masjid pertama di Bangkok yang dibangun pada tahun 1688 pada masa pemerintahan Ayutthaya atau Raja Narai dari Siam di Thailand.

Bentuk arsitekturnya mirip dengan candi Budha, dan materialnya sebagian besar dari kayu jati. Hingga akhirnya, pada tahun 1952, masjid tersebut mampu menampung kurang lebih 1.000 jemaah sekaligus dan direnovasi dengan bentuk yang lebih modern dan agresif.

Elemen arsitektur umum di masjid tertanam di dalam masjid. Salah satunya adalah kubah mini oval berwarna hijau. Meski proyek pembangunan kedua terlihat lebih agresif, namun tetap mempertahankan arsitektur tradisional sebagai warisan budaya lokal yang menarik.

Dari luar, bentuk geometris masjid ini berbentuk segitiga, jika dilihat dari depan atau depan masjid terdapat ukiran atau relief abstrak di setiap dindingnya.

Dinding baguette dihiasi dengan banyak relief. Di luar Masjid Townsend. Salah satu yang dominan adalah relief daun atau biasa dikenal dengan motif tumbuhan. Selain relief yang menonjolkan kesan agresif, lengkungan setengah lingkaran mendominasi bagian bawah masjid.

Lengkungan atau lengkung masjid Persia dibentuk dalam pola dua dimensi atau dua lapis. Hal ini terlihat di balik gapura setengah lingkaran, dan pintu utama yang terbuat dari kayu jati disambung kembali. Selain digunakan sebagai kait untuk lengkungan Persia, lengkungan itu juga digunakan sebagai jendela.

Meski tanpa warna artifisial, masjid tetap terlihat anggun, warna dasarnya berasal dari warna marmer yang berfungsi sebagai bahan dasar penutup dinding masjid. Warna ini nampaknya mendominasi seluruh eksterior masjid, menjadikan tampilan masjid ini klasik dan menawan.

Pada renovasi kedua, batu bata digunakan sebagai bahan utama, dan masjid ini digunakan sebagai masjid pertama di Bangkok yang masih mempertahankan gaya tradisional Islam dan mencerminkan seni dan budaya Thailand.

 

Baca Juga : 8 Hotel di Thailand yang Terjangkau dan Nyaman

g

2. Jawa Mosque

Jawa Mosque
Good News From Indonesia

Sejauh ini, pemahaman kami yang paling umum tentang jejak kaki orang Jawa di luar Indonesia ada di Suriname. Fakta membuktikan bahwa di Bangkok, Thailand, suku Jawa telah meninggalkan warisan budaya yang kuat. Salah satunya adalah Masjid Jawa yang arsitekturnya sangat kental dengan unsur Jawa.

Masjid ini dibangun 108 tahun lalu oleh H. Muhammad Saleh, ayah mertua pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. Awalnya, masjid ini didirikan sebagai tempat peribadahan bagi umat Islam Jawa yang bekerja di Thailand. Masjid yang bernama Masjid Jawa ini terletak di Jl. Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok. Distrik Sathorn adalah salah satu tempat dengan populasi Muslim terbanyak. Hampir 80% populasi di Distrik Sathorn adalah Muslim.

Masjid ini sarat dengan unsur arsitektur Jawa dan tidak memiliki atap kubah seperti masjid pada umumnya. Memiliki atap limas tiga lantai, seperti Masjid Demak. Hal ini menunjukkan adanya perpaduan budaya antara Islam dan Hindu di Jawa.

Masjid Jawa tersembunyi di antara hotel murah dan akomodasi petualang, mengarah ke jalan sempit yang hanya bisa dicapai dengan mobil. Masjid ini merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Islam di Distrik Sathorn, hampir seluruh penduduk di wilayah tersebut berkerabat dengan suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun sayangnya, hubungan ini sudah turun temurun, yang artinya mereka tidak akan pernah bisa berbahasa Jawa lagi.

Berbagai aktivitas digelar di masjid ini setiap hari. Mulai Senin hingga Jumat, kelas pendidikan agama Islam akan diberikan kepada anak usia sekolah. Setelah setiap shalat Maghreb, mereka akan menghadiri kelas di sebelah bangunan masjid utama.

Orang tua mengaji setiap hari Minggu setelah shalat tengah hari. Saat Ramadhan (Ramadhan) datang, akan ada lebih banyak aktivitas di masjid. Hotel ini menyediakan buka puasa dan sholat tarawih gratis setiap malam.

Keberadaan masjid sangat penting bagi komunitas muslim disana. Jika seseorang tidak memiliki cukup dana untuk menguburkan anggota keluarga yang meninggal, maka masjid ini akan menyediakan ambulans gratis, serta memfasilitasi transportasi dan mandi hingga mereka shalat di sana. Setelah itu, jenazah akan dimakamkan di pemakaman umat Islam yang berada tepat di seberang masjid. Semuanya gratis.

3. Haroon Mosque

Haroon Mosque
Bangkok River

Masjid Halong terletak di dekat Hotel Mandarin Oriental. Ini adalah masjid kedua yang secara resmi terdaftar di bawah Undang-Undang Masjid Islam Kerajaan pada tahun 1947, meskipun masjid ini dibangun 200 tahun yang lalu oleh pengusaha Arab Indonesia Musa Bafadel. Namun, Chao Phraya akhirnya dikelola oleh putranya Haroon Bafadel setelah ayahnya meninggal. Nama asli masjid ini adalah Masjid Ton Samrong, kemudian diganti namanya sesuai dengan nama putra pendirinya. Pada tahun 1899, pemerintah memutuskan bahwa lokasi masjid sangat cocok untuk keluarga kerajaan, sehingga Raja Rama V mengusulkan untuk memindahkan Masjid Haroon ke wilayah yang lebih dalam, namun tetap memberikan akses ke dermaga.

Perjalanan menuju masjid tidak terlalu jauh dari Hotel Mandarin Oriental. Jika berjalan masuk gang selama 5 menit, pengunjung akan dengan mudah menemukan masjid ini. Namun lokasinya memang membuat wisatawan harus berjalan melalui gang-gang yang bisa dibilang agak kumuh, karena banyak masyarakat ekonomi rendahan yang duduk di teras rumah yang sebagian besar kotor.

Awalnya, interior dan eksterior masjid didominasi kayu. Namun, setelah dibangun kembali, akhirnya menjadi beton berwarna merah bata. Pembangunannya membutuhkan bantuan keuangan dari penduduk Muslim setempat. Ukuran masjid tidak terlalu besar, namun terlihat jelas dari sungai. Kubahnya dilapisi warna hijau, dan dari luarnya terdapat tulisan Thailand di pintu masuk masjid ini.

Di dalamnya terdapat berbagai ukiran kayu Jepara dengan huruf arab. Karena masjid ini terbuat dari keturunan Indonesia-Arab, maka masjid ini sangat kental dengan dekorasi Jawa dan Thailand, terutama dengan gaya arsitektur Ayutthaya. Tentu saja, banyak ukiran dan pahatan tangan dapat ditemukan di sini, dengan beberapa ayat dari Alquran. Masjid tersebut dapat menampung hingga 500 orang.

Selain itu, keberadaan masjid ini juga menjadi media bagi umat beragama lain untuk lebih mengenal Islam. Di Thailand, komunitas Muslim sebagai kelompok minoritas sangat dekat satu sama lain dan hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Budha dan Kristen. Kegiatan keagamaan yang dilakukan menjadi media untuk mempererat hubungan antar umat beragama yang harmonis dan damai dengan menghilangkan perbedaan, di kutib dari cheria-travel.com

4. Masjid Darul Aman

Masjid Darul Aman
Archnet

Senin sore (29/4) pekan lalu saat langit di Kota Bangkok Thailand sudah mulai berwarna emas, NU Online diajak seorang kawan membelah jalanan Kota Bangkok yang sedang merayap. Kemacetan ibu kota negara Gajah Putih ini seperti Jakarta; cukup parah terutama di sore hari. Bedanya, jumlah kedaraan roda dua lebih sedikit dari pada roda empat. Dari sebuah kesaksian, ternyata pajak kendaraan roda dua, relatif tinggi jika dibandingkan roda empat. Hal itu menjelaskan kecilnya populasi kendaraan roda dua dibanding roda empat. Setelah taksi yang membawa kami melintasi jalanan kota selama kurang lebih 30 menit, tibalah kami di kawasan Ratchathewi, tempat sebuah masjid bernama Darul Aman, sebuah masjid yang menjadi salah satu tujuan pariwisata umat Islam di sini. “Nanti kita makan di sini ya, sekalian aku mau buka puasa,” kata Lina Farida Jihadah (30), warga NU yang menetap di Bangkok dalam logat Jawa yang cukup kental. Lina menceritakan, masjid ini merupakan salah satu masjid favorit umat Islam setempat, termasuk warga Indonesia di kawasan ini. Karena selain menjadi tempat beribadah, di sekitar masjid ini juga terdapat puluhan penjual makanan halal di sana. Puluhan meter Gang Ratchathewi tempat masjid berada terdapat penjual makanan halal dengan menu-menu yang beraneka ragam. “Di sini pusat makanan halal di kota. Jadi ‘aman’ beli makanan di sini,” kata Lina.

Saat kami mengunjungi masjid ini sore itu, tampak beberapa orang sedang mempercantik tampilan masjid ini. “Mereka sepertinya sedang menyiapkan bulan Ramadhan,” kata Lina. Tampak seseorang bendiri di atas tangga lipat sambil mengecat pintu gerbang dengan warna keemasan dan seorang lainnya menyirami bunga di taman kecil di depan masjid dengan selang panjang berwarna biru. Masjid itu sendiri terbagi atas dua lantai. Tempat ibadah utamanya terletak di lantai atas, sementara lantai bawah digunakan sebagai aula dan tempat sejumlah spot foto. Ruang di lantai atas terbagi menjadi dua; bagian depan yang ditempati jamaah laki-laki cukup luas dengan ukuran sekitar 300 meter persegi dengan karpet lembut berwarna merah dan atap-atap setinggi lima meter, dan ruang untuk perempuan yang lebih kecil di bagian belakan. Pengimaman di bagian depan dihiasi dengan gorden putih berenda hijau tua. Bagian yang taka lazim ditemukan di masjid Indonesia adalah keberadaan hiasan dari bunga dalam pot di samping kanan kiri sajadah imam, lengkap dengan dua hiasan lampu berbentuk payung kecil. Di kanan kiri tempat imam terdapat ukiran kayu selebar empat meter-an dengan ukiran ayat Al-Qur’an berwarna keemasan. Ukiran tulisan berbahasa Arab lain dengan ukuran lebih kecil juga menghiasi dinding masjid di bagian atas jendela berukuran besar itu. Secara umum, ruang utama masjid ini dipenuhi dengan warna keemasan yang menjadi ciri khas kerajaan Thailand.

Masjid dua lantai ini di awal pembangunannya hanya satu lantai saja. Saat dibangun pada tahun 1882 oleh komunitas muslim di kawasan Selatan Thailand, masjid ini dibangun dengan model arsitektur gaya Thailand yang bernama ‘Panya’. Lalu model ini diubah dalam sebuah renovasi setelah masjid ini mendapat sumbangan dari warga sekitar. Sekarang masjid ini bisa menampung kurang lebih seribu orang untuk beraktivitas. Komite masjid Darul Aman dan Komunitas Muslim Phayatai bahkan mempersilakan siapapun untuk menggunakan fasilitas masjid tersebut untuk agenda keagamaan. Keberadaan masjid ini sendiri sekaligus menandai masuknya Islam di Thailand Selatan tepatnya di Distrik Thungphayathai sejak awal periode Rattanakosin. Komunitas muslim ini lantas membangun masjid ini pada awal tahun 80an dengan nama ‘Darul Aman’ yang berarti ‘Sebuah Tempat yang Aman’. Dalam bahasa melayu lokal disebut dengan ‘Surau Phayathai’. Saat ini, menurut Lina, masjid ini semakin ramai saat Ramadhan tiba. Umat Islam memenuhi masjid untuk beribadah, termasuk melaksanakan Shalat Tarawih. Lina sendiri sangat suka melaksanakan Shalat Tarawih di sini. Alasannya substansial: karena masjid ini memenuhi hasrat ke-NU-annya dengan menyelenggarakan Shalat Tarawih 23 rakaat lengkap dengan Shalat Witirnya. “Ini ‘masjid NU’ lho, soalnya di sini shalatnya 23 rakaat. Makanya saya suka tarawih di sini. Ada juga takjil gratis di sini,” kata dia sambil tertawa. Bagaimanapun tidaklah mudah menemukan masjid di negara yang populasi muslimnya hanya lima persen dari 69 juta orang, apalagi yang spesifik dengan tarawih 23 rakaat. Pemeluk agama Budha adalah mayoritas di sini, dengan angka sekitar 93 persen. Beberapa persen sisanya dibagi pemeluk agama lain atau yang memilih tak beragama apapun.

Lina sendiri termasuk muslim yang taat. Walaupun bekerja penuh waktu di negara yang tak banyak komunitas muslimnya, ia tetap menjalankan ibadah wajib dengan ketat, lengkap dengan puasa sunnahnya. Dia juga termasuk orang yang cukup disiplin untuk urusan makanan, padahal ia tinggal di negara yang tak mudah menemukan makanan halal. Sepengalaman penulis, untuk urusan makanan di negara mayoritas non muslim seperti ini, umat Islam setidaknya terbagi menjadi dua bagian: pertama mereka yang membolehkan diri makan apapun selama tidak mengandung unsur babi, kedua kelompok yang sangat ketat menjaga makan dan tidak mau mengonsumsi sesuatu selama tidak ada jaminan halal, misalnya dengan logo halal pada bungkusnya. “Aku memilih yang ketat aja. Soalnya jika dibiasakan makan yang tidak pasti kehalalannya bisa berdampak buruk bagi yang lain,” kata Lina. Menghadapi bulan Ramadhan ia mengaku tertarik untuk lebih mendalami kajian keagamaan melalui program pengajian online yang sedang ramai. Ia mengaku secara rutin mengikuti sejumlah kajian online di antaranya pengajian Ihya’ Ulumuddin Gus Ulil Abshar Abdalla, dan pengajian lain yang tersedia secara online. Ia bersyukur atas kemudahan yang disediakan oleh kemajuan zaman saat ini.

Baca Juga : 6 Destinasi Wisata Yang Ada Di Kota Santri Serang

5. Masjid Islamic Center

Masjid Islamic Center
wikipedia

Bangkok, ibu kota Thailand, dan kota-kota di Indonesia selalu dikaitkan dengan buah-buahan berkualitas tinggi, mulai dari Jambu Bangkok hingga Durian Bangkok. Negeri berjuluk “Kampung Halaman Gajah Putih” ini memang gencar mengembangkan pertaniannya. Industri penunjang pertanian dan peternakan mereka bahkan telah merambah ke Indonesia. Selain pertanian, Thailand juga sangat giat mempromosikan pariwisata di negaranya.

Meski bukan negara Islam dan sebagian besar penduduknya beragama Buddha, ada banyak masjid di ibu kota Thailand. Beberapa masjid kota Bangkok bahkan terletak di pusat kota. Menariknya, ada beberapa masjid di Bangkok yang akar sejarahnya sangat dekat dengan Indonesia, yaitu “Masjid Indonesia” dan “Masjid Jawa.” Masjid ini memang dibangun oleh Muslim Jawa. Beberapa masjid bahkan menempati lantai pertama gedung Bangkok City Hotel. Menurut pengantar Wikipedia di Bangkok, Thailand memiliki 3.494 masjid, termasuk sedikitnya 170 masjid.

Lynn, seseorang bloger muslimah Bangkok merangkum langgar langgar kota Bangkok dalam web kepunyaannya, serta pula dengan ramah menanggapi persoalan sekeliling langgar serta kedai santapan halal di kotanya itu. Sedangkan web my. bangkoklibrary. com merangkum denah seluruh langgar di kota Bangkok selanjutnya tempat ibadah yang lain dalam satu laman denah interaktif di situsnya. Salah satu langgar di Bangkok yang pembangunan serta operasionalnya ikut di danai oleh Kerajaan Thailand merupakan Langgar Yayasan Islamic Center Thailand ataupun Foundation of Islamic Center of Thailand, buat mempermudah kita pendek saja jadi‘ Langgar FICT Bangkok’, yang hendak kita bahas di posting kali ini.

Ada dua masjid tua bersejarah di kota Bangkok, Masjid pertama adalah Masjid Tonson atau Tonson Mosque. Langgar ini diperkirakan dibentuk saat sebelum kewenangan Raja Song Tham( 1610- 1628) di bentang durasi Ayutthaya( kala pusat kerajaan Thailand berpusat di Ayutthaya). Langgar Tonson terdapat di Rute Wang Doem Road, yakni langgar tertua di kota Bangkok. Langgar ini direnovasi totalitas tahun 1954 untuk membenarkan khazanah aset arsitektur nya. Disaat ini langgar tertua kota Bangkok ini tidak saja berfungsi berlaku seperti tempat ibadah penganut Islam namun pula jadi aset kuno mukmin Thailand. Di halaman langgar ini terdapat kober belian populer bentuk Mukmin Thailand.

Masjid tertua kedua di kota Bangkok adalah Masjid Bang Luang. Masjid ini dibangun untuk Muslim Thailand yang memilih tinggal di sepanjang kanal Bangluang,

ketika Raja Taksin bertarung melepaskan Thailand dari Burma( saat ini Myanmar) tahun 1767. Area tempat langgar ini berdiri saat ini diketahui selaku Kudi Khao Community. Langgar Abang Senggang dibentuk oleh para orang dagang mukmin yang diucap To Yi. Langgar ini jadi satu satunya langgar berumur Thailand yang dibentuk berbahan bata dalam serta berlagak konvensional Thailand.

Yayasan“ The Foundation of the Central Mosque of Thailand” dibuat di Bangkok, Ibukota Thailand pada bertepatan pada 1 Oktober 1954.

Pembuatan tubuh ini yakni bentuk energi kerjasama dari kalangan Mukmin di Thailand dengan pemastian yang kuat buat hak konstitusional warganegara dan hak buat kedaulatan beriktikad. Julukan yayasan itu bertukar julukan jadi“ The Foundation of Islamic Centre of Thailand” disingkat jadi FICT pada bersamaan pada 24 September 1976.

Pembangunan langgar dengan arsitektur yang amat khas ini berakhir dilaksanakan pada tahun 1984 menghabiskan kalkulasi dekat 54 juta Baht Thailand, sesuai dengan dekat US$ 1. 2 juta Dolar Amerika, ataupun lebih kurang sebentuk dengan nyaris Rp. 12 milyar( 2 simpati kasih Milyar Rupiah).

Beberapa besar anggaran pembangunan ialah kontribusi dari mukmin setempat serta mukmin dari luar Negeri. Beberapa anggaran yang lain di sokong dari anggaran kerajaan Thailand tahun pajak 1981 sampai 1983. Semenjak itu lalu terjalin pergantian serta koreksi dengan cara berkepanjangan, tercantum pula pengembangan dengan sokongan kokoh dari khalayak, orang ataupun dari bermacam badan.

Pengelola FICT Bangkok ini diucap The Executive Management Committee, diseleksi tiap 6 tahun bekerja memantau totalitas operasional FICT. Pada dikala ini terdiri dari 31 orang Executive Management Committee, terdiri dari President, Vice President, Secretary General, Bendaharawan, Akuntan, Ikatan Warga( Public Relation), Ikatan Luar Negara, serta Badan Committee.

FICT di Bangkok ini merupakan organisasi induk bagi semua organisasi Islam di Thailand.

Pembentukannya memanglah bervisi buat jadi pemersatu untuk mukmin diseluruh Thailand, membagikan partisipasi membagikan partisipasi buat perkembangan komunitas Mukmin serta warga pada biasanya. Buat menciptakan angan- angan itu FICT melaksanakan tahap tahap tercantum membuat serta melaksanakan Langgar di Lingkungan FICT

Tujuan berikutnya merupakan sediakan layanan keimanan serta edukasi agama pada komunitas Mukmin untuk kemajuan akhlak mereka cocok dengan arahan syariah Islam. FICT pula bermaksud membagikan pembelajaran buat seluruh susunan warga selaku seseorang Mukmin di dalam kehidupan yang multi kultul serta selaku masyarakat negeri yang sempurna dan menolong Mukmin bergabung dalam warga Thailand yang lebih besar.

Meningkatkan serta sediakan layanan sosial serta adat dalam bagan melestarikan bukti diri Keislaman serta menghasilkan pemahaman sosial serta adat antara Mukmin serta warga yang lebih besar. Membagikan layanan edukasi serta pangkal energi, paling utama buat badan pembelajaran, rumah sakit sampai ke badan sosialisasi( bui).

Membagikan layanan diskusi buat membongkar permasalahan pembelajaran, adat serta sosial warga. Membagikan jasa keselamatan sosial bagibermacam kalangan masyarakat, Layanan pemakaman dan desakan kemanusiaan dan sumbangan di semua kadar masyarakat.

Yayasan Islamic Center Thailand mempunyai sebidang tanah seluas 16. 976 m persegi yang saat ini telah dibentuk Langgar. Tanah itu ialah tanah kepunyaan sendiri, beberapa didapat dengan pembelian serta beberapa lagi ialah donasi dari kalangan muslimin. Pemasukan terbanyak yayasan memanglah berawal dari Amal serta kontribusi kalangan muslimin, pangkal yang lain dari cara penggalangan anggaran( fund raising), services fee dan anggaran layanan khalayak dari Penguasa Kerajaan Thailand.

Gedung langgar di lingkungan FICT berkapasitas 3000 himpunan sekalian. gedung kuncinya terdiri dari 2 ruang sholat penting; ruang sholat akhwat terletak di lantai atas serta kawan terletak di lantai dasar, 2 zona berwudhu, auditorium besar, ruang perjamuan VIP, sebagian ruang kantor, gerai novel, bibliotek serta kedai santapan halal. Di lingkungan ini pula ada ruang rapat, kantor Islamic Center of Thailand, kantor Thai Mukmin Student Association serta dapur. Ada pula bibliotek dengan bayaran peminjaman novel cuma sebesar 20 bath per tahun, kedai santapan halal dengan menu nasi kuning plus ayam ada disini.