Wisata Mancanegara

Menakjubkan, Inilah 5 Candi Tercantik di Ayutthaya Thailand yang Wajib Dikunjungi

Summary

phuketairlines – Thailand merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang perkembangannya selalu bersifat sementara terutama di bidang pariwisata. Ini karena Thailand kaya akan bangunan peninggalan sejarah, serta lingkungan alamnya yang sangat indah dan tertata dengan baik. Pantai Thailand juga sangat […]

Menakjubkan, Inilah 5 Candi Tercantik di Ayutthaya Thailand yang Wajib Dikunjungi

phuketairlines – Thailand merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang perkembangannya selalu bersifat sementara terutama di bidang pariwisata. Ini karena Thailand kaya akan bangunan peninggalan sejarah, serta lingkungan alamnya yang sangat indah dan tertata dengan baik. Pantai Thailand juga sangat indah dan menawan.Seperti Indonesia, grup wisata Thailand juga menyediakan banyak candi yang layak untuk dikunjungi. Tepatnya, di Ayutthaya, 80 kilometer utara Bangkok, Anda akan dianggap sebagai tur ke kuil Buddha bersejarah. Keindahan seni ukir pada arca relief candi yang berpadu dengan patung Budha emas yang erat dan kental dengan budaya tiongkok. Berikut Inilah 5 Candi Tercantik di Ayutthaya Thailand yang Wajib Dikunjungi, kami rangkum dari berbagai sumber :

Menakjubkan, Inilah 5 Candi Tercantik di Ayutthaya Thailand yang Wajib Dikunjungi

– Wat Phanan Choeng Worawihan

Wat Phanan Choeng Worawihan
wisatathailand

Wat Phanan Choeng merupakan suatu kuil Buddha di kota Ayutthaya, Thailand, di pinggir timur Sungai Chao Phraya di bagian tenggara dari pertemuan Chao Phraya serta Pa Sungai Sak. Saat ini, sebagai bagian dari Taman Sejarah Ayutthaya, kuil ini jadi objek wisata yang terkenal. Dibangun pada tahun 1324, sekitar 26 tahun saat sebelum kota Ayutthaya resmi dibuat, candi itu tentu beberapa tersambung dengan kawasan tinggal dini di wilayah itu. Ini paling utama diduga tercantum komunitas pengungsi berkemampuan 200 orang dari Dinasti Song Tiongkok. Besar Wihan, bangunan paling tinggi dalam lingkungan candi, rumah seseorang besar disepuh 19 m bersandar Buddha dari 1334 CE. Patung Buddha yang amat dihormati ini diucap Senggang Pho Tho oleh Thailand, serta Sam Pao Kong oleh Thai- China. Patung itu dianggap sebagai penjaga para bahariwan nelayan. Diprediksi, saat sebelum kebangkrutan Ayutthaya oleh orang Burma pada 1767 Meter,” air mata mengalir dari mata bersih ke pusar bersih”. Patung itu sudah dipulihkan sebagian kali dalam asal usul. Raja Mongkutmenamai Patung itu Phra Puttha Thrai Ratana Nayok sehabis pemugarannya pada tahun 1854 Meter.

Wat Phanan Choeng populer dengan patung Buddha duduknya yang amat besar, yang dikira sebagai salah satu yang terindah di negera ini. Bagi legenda, air mata menetes dari mata gambar tepat saat sebelum kehancuran Ayutthaya oleh orang Burma pada tahun 1767. Kuil ini terdapat di pinggir sungai Pa Sak di seberang ujung Tenggara pulau bersejarah. Dari perahu sungai Kamu akan mempunyai panorama alam biara yang bagus, yang pula mempunyai tempat pendaratan perahu. Daya tarik penting kuil ini merupakan gambar Buddha yang amat besar. Gambar batu bata serta mortir bernama Phra Chao Phanan Choeng duduk dalam postur menaklukkan Mara, ataupun diketahui sebagai Memanggil Bumi buat bersaksi. Gambar gaya U Thong yang berlais emas pula diketahui sebagai Luang Pho To. Itu diapit oleh 2 murid dalam pemujaan, Sariputta serta Moggallana, yang ialah murid Buddha yang paling dekat. Patung itu dibangun pada 1324, beberapa dekade sebelum Ayutthaya didirikan. Setelah selesai gambar itu berdiri di luar, sebab viharn belum dibangun.

Baca Juga : Wisata Malam di Khao San Road

– Wat Maha That

Wat Maha That
Renown Travel

Wat Mahathat ialah reruntuhan kuil serta kerajaan Ayutthaya yang dibangun pada tahun 1384 oleh Raja Rachatirat. Kerajaan ini berakhir serta runtuh akibat penyerangan serta perampasan oleh kerajaan Burma pada masa ke-14. Serta saat ini cuma tertinggal peninggalan sejarah berbentuk reruntuhan bangunannya saja. Di tahun 1625 bagian atap pada gedung utama ambruk serta dibangun kembali pada tahun 1633 dengan 4 m lebih besar dari tadinya, namun setelah itu ambruk lagi dengan situasi yang lebih akut, sehingga cuma menyisakan sudut-sudut bangunannya. Taman memiliki Ayutthaya ini amatlah besar, banyak perihal menarik untk diamati, nyaris serupa semacam reruntuhan Candi Boko di yogjakarta. Namun sesungguhnya bukan reruntuhan ini yang jadi pusat perhatian para wisatawan.

Pada masa jayanya, kerajaan Ayutthaya mempunyai banyak sekali patung serta patung-patung Buddha. Populer dengan harta karun yang berlimpah, sampai kerajaan ini diserang serta dijarah oleh kerajaan Burma serta hadapi kehancuran di sana-sini, pecahnya patung- patung atau patung batu. Dimakan waktu, tempat ini jadi tidak terpelihara, berlumut, serta bersemak. Sampai saat reruntuhan ini kembali dibersihkan buat jadi tempat darmawisata, di suatu tumbuhan di ujung reruntuhan, ditemui arca batu kepala Buddha yang telah terbelit serta jadi satu dengan batang tumbuhan. Batu kepala Buddha itu terletak di batang tumbuhan serta terletak 30cm diatas tanah.

Sedangkan tidak nampak terdapat sisa tubuh dari arca itu, tidak tahu sebab telah hancur sebab tidak terdapat ciri sisa bagian tubuh dari kepala Buddha yang jadi satu di tumbuhan itu terdapat di sekitar tumbuhan itu. Fenomenal kepala patung batu Buddha ini lah yang jadi daya tarik penting di Wat Mahathat ini, sahabat. Sebab, walaupun terbelit akaryang benjadi badan pohon itu, bagian wajah patung Buddha terletak pada posisi tegak serta menghadap pergi, serta seolah patung itu tersenyum. Istimewanya lagi, sahabat, warna batu telah tidak nampak pada patung kepala itu. Rupanya telah jadi satu dengan warna batang tumbuhan, alhasil nampak terlihat seolah patung itu ialah pahatan dari batang pohon, bukan dari bagian batu yang terlilit.

Baca Juga : 7 Tempat Wisata Di Kampar Yang Mempesona

– Wat Yai Chai Mongkhon

Wat Yai Chai Mongkhon
Go Ayutthaya

Dari Wat Maha That, beralihlah ke komplek candi selanjutnya, ialah Wat Yai Chai Mongkhon. Walaupun area komplek candi tak seluas candi-candi yang lain, tetapi terdapat satu hal menarik yang menjadikan Wat Yai Chai Mongkhon terkenal, ialah kehadiran reclining Buddha ataupun patung Buddha yang sedang berbar. Panjangnya sekitar 7 m serta disampul dengan jubah safron bercorak oranye. Patungnya sendiri dibentuk mengarah ke timur serta kerap diucap sebagai Wihan Phra Phuttha Saiyat. Saat sebelum Ayutthaya dibuat, ahli sejarah yakin kalau situs asli Wat Yai Chai Mongkhon bisa jadi ialah lingkungan kuil Khmer yang berarti. Kuil yang berlainan setelah itu dibentuk di sini dengan beberapa julukan berlainan. Kala Ayutthaya dibuat sebagai bunda kota Siam pada tahun 1350, Raja U- thong memproklamasikan situs itu sebagai kuil kerajaan serta itu diketahui sebagai Wat Chao Phraya Thai.

Penting Chedi berbentuk lonceng utama di Wat Yai Chai Mongkhon merupakan salah satu landmark khas Ayutthaya. Wisatawan bisa menaiki anak tangga yang menagarh ke program buat panorama alam lingkungan candi. Suatu galeri persegi panjang mengelilingi chedi serta dilapisi dengan lusinan patung Buddha dari batu. Dokumen aslinya akan dilapisi dengan kencana, namun dikala ini ikat pinggang berwarna kunyit dipakai sebagai gantinya. Walaupun ini bukan tepung asli, wisatawan tetap wajib memperlakukannya dengan hormat. Dua wisatawan baru-baru ini difoto di kuil yang berdiri di atas salah satu lukisan Buddha batu serta pihak berwenang Thailand lagi berupaya melacaknya alhasil mereka bisa diadili.

– Wat Phra Si Sanphet

Wat Phra Si Sanphet
Wikipedia

Wat Phra Si Sanphet merupakan kuil tersuci disitus Istana Kerajaan lama di Ibu kota kuno Thailand, Ayutthaya hingga kota itu dihancurkan seluruhnya oleh orang Burma pada tahun 1767. Ini merupakan termegah serta terindah di ibu kota serta berperan sebagai bentuk buat Wat Phra Kaew di Bangkok. Wat Phra Sang Sanphet merupakan kuil kerajaan, dengan cara khusus dipakai oleh anggota keluarga kerajaan.Saat Wat Phra Sang Sanphet dipakai buat upacara kerajaan, para biksu wajib diundang sebab tidak terdapat biksu yang tinggal di sana. Pada langkah terakhir saat sebelum penghancurannya candi merupakan bentuk yang mengesankan.Fasilitas tambahan terdapat di program yang ditinggikan, 3 Chedi, yang saat ini jadi salah satunya gedung yang sudah dipugar. Dari semua pondasi yang lain masih dipertahankan.

Chedi dibangun dengan konsep klasik Ceylon yang mengingatkan pada lonceng. Di setiap arah kapel kecil dikenali, yang mengarah ke tangga curam. Atap kapel pada gilirannya ditutup dengan miniatur Chedi. Tiap- tiap dari 3 Chedi yang terletak di bagian timur diberi suatu Mondop di mana dipercayai jejak tahap Buddha. Dengan cara simetris, berdiri di selatan viharn Senggang viharn Pa Le Lei, di mana bisa jadi terdapat patung Buddha duduk. Di sekitar semua lingkungan terdapat tembok pembatas yang tinggi, 4 gerbang masuk ke 4 arah menawarkan akses ke kuil. Di dalam sepanjang dinding ada Chedi kecil serta paviliun rendah ( Sala) dengan cara bergantian. Dari banyak orang Chedi kecil ini, sebagian masih terdapat samai hari ini.

– Wat Chai Watthanaram

Wat Chai Watthanaram
Wikimedia

Wat Chaiwatthanaram merupakan kuil Buddha di kota Taman Bersejarah Ayutthaya, Thailand, di pinggir barat Sungai Chao Phraya, di luar pulau Ayutthaya. Ini merupakan salah satu kuil sangat populer di Ayutthaya serta subjek darmawisata penting. Wat Chaiwatthanaram terdapat di pinggir barat Sungai Chao Phraya, barat daya kota tua Ayutthaya. Ini merupakan bagian lingkungan Taman Bersejarah Ayutthaya. Tetapi bukan bagian dari Kota Bersejarah Ayutthaya, suatu UNESCO World Heritage Site. Itu dapat dicapai lewat jalan darat ataupun dengan perahu. Kuil ini dibentuk pada tahun 1630 oleh raja Prasat Thong sebagai kuil awal di era pemerintahannya, sebagai peringatan kediaman ibunya di wilayah itu. Nama candi dengan cara harfiah berarti Kuil era biasa yang jauh serta kesuksesan. Itu didesain dengan gaya Khmer buat memperoleh pahala Buddha serta selaku peringatan buat ibunya, tetapi Pangeran Damrong percaya itu dibentuk buat memperingati kemenangan Kerajaan Ayutthaya atas Longvek.

Wat Chaiwatthanaram merupakan kuil kerajaan tempat raja serta penerusnya melaksanakan upacara keagaman. Para pangeran serta putri dikremasi di sini, termasuk putra Raja Boromakot, Chaofa Thammathibet. Bentuk Wat Chaiwatthanaram mencerminkan pandangan dunia Buddhis, semacam yang telah dijelaskan dalam Traiphum Phra Ruang,”tiga dunia Raja Ruang”, abad ke- 14:” Prang Prathan” besar yang berdiri di tengah melambangkan gunung Meru, yang terdiri dari poros tengah dunia tradisional. Di sekelilingnya ada 4 benua( 4 Prang kecil) yang berenang di 4 arah di laut dunia. Di salah satu benua, Chomphutawip, manusia hidup. Bagian persegi panjang merupakan pinggiran luar dunia,” Pegunungan Besi”.